SIASAT CERDAS MUHAMMAD AL-FATIH MEMINDAHKAN 70 KAPAL PERANG LEWAT DARATAN
Muhammad Al-Fatih merupakan Sultan Kesultanan Utsmaniyah yang dikenal karena keberhasilannya menaklukkan Konstantinopel pada 1453. Kota yang kini dikenal sebagai Istanbul tersebut memiliki sistem pertahanan yang sangat kuat, termasuk tembok kokoh dan jalur laut yang dilindungi rantai besi besar. Meski banyak upaya penaklukan sebelumnya mengalami kegagalan, Muhammad Al-Fatih memiliki tekad kuat untuk merebut kota strategis tersebut. Ia pun menyusun berbagai strategi militer demi menemukan celah dalam pertahanan Konstantinopel.
Salah satu hambatan terbesar yang dihadapi pasukan Al-Fatih adalah rantai besi raksasa yang membentang di perairan Teluk Tanduk Emas atau Golden Horn. Rantai tersebut menghalangi kapal-kapal perang Utsmaniyah memasuki kawasan perairan yang strategis bagi pertahanan kota. Berbagai upaya dilakukan untuk menembus pertahanan lawan, tetapi tidak semuanya membuahkan hasil. Menghadapi situasi tersebut, Al-Fatih tidak menyerah. Ia justru memikirkan cara yang tidak biasa untuk mengatasi penghalang tersebut, yaitu membawa kapal-kapal perangnya melewati jalur darat.
Dalam strategi yang terkenal dalam sejarah penaklukan Konstantinopel ini, sekitar 70 kapal perang Utsmaniyah dipindahkan melalui daratan dengan bantuan landasan kayu yang dilumuri minyak untuk mengurangi gesekan. Kapal-kapal tersebut ditarik melintasi kawasan perbukitan Galata menuju Teluk Tanduk Emas. Menurut artikel DetikHikmah, pemindahan itu dilakukan dalam satu malam dengan jarak yang disebut mencapai sekitar 16 kilometer. Strategi ini membutuhkan perencanaan matang, tenaga besar, dan kerja sama pasukan agar kapal-kapal dapat dipindahkan tanpa diketahui pihak lawan.
Ketika kapal-kapal Utsmaniyah berhasil memasuki Teluk Tanduk Emas, pasukan Bizantium menghadapi ancaman baru dari arah yang sebelumnya mereka anggap terlindungi. Perhatian mereka yang semula terpusat pada jalur laut yang terhalang rantai kini harus terbagi untuk menghadapi serangan dari kawasan teluk. Keberhasilan manuver tersebut memberikan keuntungan strategis bagi pasukan Al-Fatih dalam pengepungan Konstantinopel. Setelah melalui pertempuran panjang, kota itu akhirnya jatuh ke tangan Kesultanan Utsmaniyah pada 29 Mei 1453, menandai berakhirnya Kekaisaran Bizantium.
Kisah pemindahan kapal perang Muhammad Al-Fatih menjadi salah satu contoh strategi militer paling terkenal dalam sejarah. Keberhasilannya menunjukkan bahwa menghadapi hambatan besar tidak selalu berarti harus menggunakan cara yang sama berulang kali. Perencanaan yang matang, keberanian mengambil keputusan, serta kemampuan membaca kelemahan lawan dapat membuka peluang ketika jalan yang biasa ditempuh tampak tertutup. Penaklukan Konstantinopel pun menjadi bagian penting dalam sejarah dunia, sementara strategi pemindahan kapal melalui daratan terus dikenang sebagai bukti kreativitas dan kecerdikan dalam menghadapi tantangan militer.
Sumber : https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-8686898/siasat-muhammad-al-fatih-pindahkan-70-kapal-perang-lewat-daratan