HIDUP ITU SALING MEMANDANG: BELAJAR BERSYUKUR DAN MENJAGA HATI
Kehidupan di dunia tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan manusia. Ada kalanya seseorang merasakan kebahagiaan, tetapi ada pula saat ketika ia menghadapi kesedihan, kesulitan ekonomi, atau berbagai ujian lainnya. Dalam keadaan seperti ini, cara seseorang memandang kehidupan sangat memengaruhi ketenangan hatinya. Ketika terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain, seseorang bisa kehilangan rasa syukur atas nikmat yang telah dimilikinya. Padahal, apa yang terlihat indah dalam kehidupan orang lain belum tentu menggambarkan seluruh kenyataan yang mereka alami.
Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an, “Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha: 131). Ayat ini mengingatkan kita agar tidak silau terhadap kenikmatan dunia yang dimiliki orang lain. Kekayaan, jabatan, kendaraan, dan rumah mewah bukanlah satu-satunya ukuran kebahagiaan. Ada nikmat yang sering terlupakan karena dianggap biasa, seperti kesehatan, keluarga yang menyayangi kita, kesempatan beribadah, dan hati yang masih mampu merasakan ketenangan.
Sering kali kita melihat kehidupan orang lain hanya dari sisi yang tampak. Kita melihat seseorang memiliki banyak harta, bisnis yang berkembang, atau karier yang cemerlang, lalu merasa kehidupan kita jauh tertinggal. Padahal, bisa jadi orang tersebut sedang menghadapi ujian yang tidak kita ketahui. Sebaliknya, orang yang kita anggap hidup sederhana mungkin justru melihat kehidupan kita sebagai sesuatu yang mereka harapkan. Setiap manusia memiliki ujian dan nikmatnya masing-masing. Oleh karena itu, membandingkan seluruh kehidupan kita dengan sebagian kecil kehidupan orang lain hanya akan menumbuhkan kegelisahan, kecemburuan, dan ketidakpuasan.
Rasulullah ﷺ memberikan petunjuk agar kita lebih mudah mensyukuri nikmat Allah. Beliau bersabda, “Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengajarkan kita untuk melihat orang yang memiliki keadaan duniawi lebih sulit agar kita menyadari betapa banyak nikmat yang masih kita miliki. Namun, bukan berarti kita dilarang memiliki cita-cita atau belajar dari keberhasilan orang lain. Kita tetap boleh berusaha menjadi lebih baik, selama tidak menjadikan pencapaian orang lain sebagai alasan untuk membenci keadaan diri sendiri dan melupakan karunia Allah.
Pada akhirnya, ketenangan hidup bukan semata-mata bergantung pada seberapa banyak yang kita miliki, melainkan juga pada bagaimana kita memandang dan mensyukurinya. Jangan sampai kesibukan mengejar sesuatu yang belum dimiliki membuat kita lupa menjaga nikmat yang sudah ada. Jika orang lain mendapatkan rezeki yang lebih luas, doakanlah keberkahan untuk mereka dan tetaplah berusaha dengan cara yang halal. Jika kehidupan terasa berat, ingatlah bahwa masih ada nikmat yang patut disyukuri dan kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Tugas kita bukanlah mengalahkan kehidupan orang lain, melainkan menjalani amanah kehidupan sendiri dengan penuh syukur, kesabaran, dan ketaatan kepada Allah.
Sumber : https://muslim.or.id/90747-hidup-itu-saling-memanda
ng.html