Berita / MENJAGA KESUCIAN DAN KELANCARAN: DISIPLIN SEBAGAI WUJUD LUHUR IBADAH DI MASJIDILHARAM
08 Jan 2026

MENJAGA KESUCIAN DAN KELANCARAN: DISIPLIN SEBAGAI WUJUD LUHUR IBADAH DI MASJIDILHARAM

Image MENJAGA KESUCIAN DAN KELANCARAN: DISIPLIN SEBAGAI WUJUD LUHUR IBADAH DI MASJIDILHARAM News

Dalam geliat spiritualitas yang senantiasa mengalir deras ke jantung Islam, otoritas Arab Saudi dengan penuh kebijaksanaan kembali menyempurnakan tatanan yang menjaga harmoni di sekitar Masjidil Haram. Melalui pernyataan resmi Kementerian Haji dan Umrah di platform @MoHU_En, ditegaskan kembali larangan bagi jamaah untuk menghamparkan alas tidur, sajadah, ataupun berbaring di koridor dan ruang publik sekitar masjid suci tersebut. Kebijakan ini, meski bukan hal baru, hadir sebagai penegasan ulang yang tepat pada waktunya, menyusul memuncaknya arus jamaah yang berduyun menuju Makkah dalam persiapan menyambut puncak musim ibadah.

Menjaga Arteri Spiritual dari Kemacetan

Kementerian menerangkan dengan gamblang bahwa kebiasaan sebagian jamaah beristirahat di lorong-lorong telah menjadi faktor signifikan yang mengganggu kelancaran arus pergerakan. Jalur thawaf yang suci, akses menuju tempat shalat, hingga pintu-pintu masuk masjid berpotensi mengalami penyumbatan, khususnya pada saat-saat puncak kesibukan. Dampaknya meluas hingga ke aspek keselamatan: petugas keamanan dan medis pun dapat mengalami kendala mobilitas ketika harus merespons insiden darurat dengan cepat. Di ruang sehiruk-pikuk dan sesak berkah seperti Masjidil Haram, setiap detik yang hilang dapat memiliki konsekuensi yang tidak terkira.

Memuliakan Ruang Bersama, Memuliakan Sesama

Otoritas dengan visioner menempatkan koridor, lorong, dan setiap jengkal ruang publik di kawasan suci itu sebagai fasilitas bersama yang mesti dipelihara kehormatannya. Mengubah area lalu lintas pejalan kaki menjadi tempat peristirahatan pribadi dinilai bertentangan dengan semangat ibadah haji yang justru mengedepankan kepedulian, toleransi, dan pengorbanan untuk kebaikan bersama. Pemerintah Saudi mengingatkan, dengan nada yang penuh wibawa, bahwa menjaga kelancaran mobilitas sesama jamaah adalah bagian integral dari adab dan penghormatan seorang tamu di tanah suci. Ruang publik adalah milik bersama, dan mengistirahatkan diri di tempat yang semestinya adalah wujud penghormatan kepada hak orang lain untuk beribadah dengan nyaman dan aman.

Modernisasi Layanan: Nusuk Haji sebagai Jembatan Digital

Di samping penertiban perilaku di area fisik masjid, Kementerian juga mengedepankan solusi berbasis teknologi untuk meningkatkan pelayanan. Jamaah diserukan untuk memperbarui data mereka melalui platform digital terpadu, Nusuk Haji. Sistem ini dirancang bukan hanya untuk mempercepat proses administrasi dan verifikasi identitas, tetapi juga menjadi kanal resmi penyampaian informasi terkini mengenai peraturan dan layanan haji. Dengan database yang rapi dan akurat, diharapkan tidak ada lagi jamaah yang mengalami kendala layanan atau tersesat akibat masalah teknis, sehingga setiap jiwa dapat sepenuhnya fokus pada perjalanan spiritualnya.

Disiplin: Esensi yang Menyempurnakan Ibadah

Seruan ini pada hakikatnya lebih dari sekadar instruksi prosedural; ia adalah undangan untuk menumbuhkan kesadaran kolektif yang lebih tinggi. Pemerintah menekankan bahwa kerapian dan ketertiban yang dijaga oleh setiap individu jamaah merupakan penentu utama kelancaran ibadah bagi jutaan manusia dari segala penjuru dunia. Arab Saudi menegaskan dengan jelas: menjaga ketertiban di Masjidil Haram adalah tanggung jawab moral setiap jamaah, sebuah amanah yang tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada aparat keamanan.

Sikap saling menghormati, mengedepankan kepentingan bersama, dan mengendalikan keinginan pribadi adalah nilai-nilai luhur yang diusung dalam perjalanan haji. Disiplin, dalam konteks ini, bukanlah pembatasan, tetapi justru pembebasan—jalan untuk menciptakan ruang yang tertib, aman, dan kondusif bagi seluruh hamba Allah untuk menyempurnakan kekhusyukan ibadah mereka. Dengan demikian, setiap langkah tertib yang diambil adalah bagian dari ibadah itu sendiri, sebuah praktik nyata dari kesabaran, kepedulian, dan penghormatan yang menjadi ruh dari perjalanan suci ke Baitullah.

Whatsapp Chat Admin