Berita / MEMAKNAI SPIRITUALITAS DI BAIT SUCI: KEBIJAKAN BARU PENGATURAN IBADAH DI HIJR ISMAIL, MASJIDILHARAM
29 Dec 2025

MEMAKNAI SPIRITUALITAS DI BAIT SUCI: KEBIJAKAN BARU PENGATURAN IBADAH DI HIJR ISMAIL, MASJIDILHARAM

Image MEMAKNAI SPIRITUALITAS DI BAIT SUCI: KEBIJAKAN BARU PENGATURAN IBADAH DI HIJR ISMAIL, MASJIDILHARAM News

Dalam upaya menjaga ketertiban sekaligus memastikan keadilan bagi setiap jamaah yang datang berziarah, Otoritas Masjidil Haram yang mulia telah menerbitkan pengaturan jadwal terbaru untuk ibadah di kawasan Hijir Ismail (The Hateem). Kebijakan yang diterapkan dengan penuh hikmah ini bertujuan memberikan pengalaman spiritual yang optimal bagi semua tamu Allah di salah satu lokasi paling suci dalam Islam.

Hijir Ismail: Sepotong Surga di Bumi

Secara geografis, Hijir Ismail adalah area setengah lingkaran (melengkung) yang terletak di sisi barat laut Ka'bah, dibatasi oleh tembok pendek setinggi kurang lebih 1.3 meter. Keistimewaannya bukan sekadar pada letaknya, melainkan pada kedalaman sejarah dan spiritualitas yang dimilikinya. Hijir Ismail diyakini sebagai fondasi dari bangunan Ka'bah asli yang didirikan oleh Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Dalam literatur fikih, keyakinan ini menjadikan salat di dalam Hijir Ismail memiliki keutamaan yang setara dengan salat di dalam Ka'bah, berdasarkan kesepakatan para ulama.

Aturan Jadwal: Keseimbangan dan Keteraturan

Sebagaimana dilansir dari sumber terpercaya, The Islamic Information, otoritas telah menetapkan pembagian waktu khusus berdasarkan jenis kelamin untuk mencegah kepadatan dan memfasilitasi kekhusyukan ibadah:

Jamaah Laki-laki: Diberikan waktu beribadah mulai pukul 22.00 hingga 02.00 waktu setempat.

Jamaah Perempuan: Memiliki jadwal di pagi hari, yaitu dari pukul 07.30 hingga 11.00.

Namun, perlu dicatat bahwa jadwal ini bersifat dinamis dan dapat menyesuaikan dengan kebutuhan operasional, seperti proses pembersihan menyeluruh, pemeliharaan area, atau situasi tak terduga lainnya. Fleksibilitas ini menunjukkan komitmen otoritas untuk selalu memprioritaskan keselamatan dan kenyamanan jamaah.

Mekanisme Ibadah: Singkat, Khidmat, dan Teratur

Setiap jamaah yang mendapat kesempatan masuk ke Hijir Ismail biasanya dialokasikan waktu sekitar 10 menit untuk menunaikan salat sunnah dan berdoa. Akses masuk diatur secara ketat melalui pintu barat Masjidil Haram (Bab al-Hijrah atau Bab al-Umrah), di bawah pengawasan petugas yang memastikan arus jamaah lancar dan tertib. Kepatuhan terhadap petunjuk petugas adalah kunci untuk menjaga harmoni dan ketenangan di area suci tersebut.

Pondasi Keutamaan: Berdasarkan Hadis Nabi SAW

Keagungan Hijir Ismail bukanlah sekadar cerita turun-temurun, melainkan memiliki landasan yang kuat dalam Sunnah Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan lainnya dari Ummul Mu'minin Aisyah RA, beliau berkata:

“Aku sangat ingin memasuki Ka'bah untuk melakukan salat di dalamnya. Kemudian Rasulullah SAW membawaku ke dalam Hijir Ismail dan bersabda: ‘Salatlah kamu di sini jika kamu ingin salat di dalam Ka'bah, karena ini termasuk sebagian dari Ka'bah.’”

Hadits mulia ini menjadi dasar utama anjuran salat sunnah di Hijir Ismail. Ibadah ini bersifat sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) dan bukan bagian dari rukun haji atau umrah. Banyak jamaah yang merasakan kedamaian luar biasa dan mengharapkan ampunan di tempat ini, sejalan dengan riwayat yang menyebutkan tentang malaikat yang berdiri di pintunya memberikan kabar gembira pengampunan bagi yang beribadah di dalamnya dengan khusyuk.

Kilasan Sejarah: Dari Pondasi Ibrahim Hingga Pemugaran Quraisy

Hijir Ismail menyimpan narasi sejarah yang mengharukan. Tempat ini dipercaya sebagai lokasi kemah sederhana Nabi Ismail AS dan ibunya, Siti Hajar, yang menjadi tempat tinggal mereka selama pembangunan Ka'bah.

Sejarah mencatat peristiwa penting ketika Kaum Quraisy melakukan renovasi Ka'bah sekitar tahun 606 M (sebelum kerasulan Nabi Muhammad SAW). Karena keterbatasan dana halal yang mereka kumpulkan, mereka terpaksa mengurangi luas bangunan asli. Dinding asli Ka'bah yang dibangun Nabi Ibrahim dikurangi sekitar tiga meter di sisi utara (yang kini menjadi area Hijir Ismail). Perubahan inilah yang kemudian disampaikan Nabi SAW kepada Aisyah RA, sebagaimana dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim:

“Wahai Aisyah, seandainya kaummu tidak baru saja meninggalkan kekafiran (masih dekat dengan masa jahiliyah), niscaya akan kuperintahkan untuk merenovasi Ka'bah dan kumasukkan Hijir Ismail ke dalamnya.”

Peristiwa ini mengukuhkan bahwa Hijir Ismail memang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari fondasi suci yang diletakkan oleh Khalilullah, Ibrahim AS.

Penutup: Menjaga Kesucian, Merawat Kekhidmatan

Kebijakan penjadwalan yang diterapkan oleh Otoritas Masjidil Haram merupakan manifestasi dari tanggung jawab besar dalam mengelola lokasi ibadah paling sentral umat Islam. Di balik aturan teknis tersebut, tersimpan tujuan mulia: memelihara kesucian tempat, menjamin keadilan akses, dan menciptakan ruang di mana setiap doa dapat dipanjatkan dengan tenang dan khidmat. Bagi setiap jamaah, mematuhi peraturan ini adalah bagian dari ibadah itu sendiri—bentuk penghormatan kepada kesucian Baitullah dan kepedulian terhadap sesama peziarah yang sama-sama merindukan rahmat di tanah suci.

Whatsapp Chat Admin