JANNAT AL-MU'ALLA: JEJAK KEABADIAN DI JANTUNG KOTA SUCI MEKKAH
Di balik hiruk-pikuk jutaan jamaah yang mengelilingi Ka’bah, terdapat sebuah tanah hening yang menyimpan narasi panjang sejarah Islam. Terletak sekitar satu kilometer di utara Masjidil Haram, tepat di kaki Gunung Hajun, terbentang Jannat al-Mu'alla. Pemakaman ini bukan sekadar kompleks pusara; ia adalah saksi bisu dari awal mula risalah kenabian hingga keteduhan wafatnya para ulama besar Nusantara.
Pusara Keluarga dan Kekasih Nabi
Jannat al-Mu'alla, atau yang juga dikenal dengan sebutan Al-Ma’la, memiliki kedudukan spiritual yang sangat tinggi bagi umat Muslim. Di tanah ini, sosok wanita agung pendamping perjuangan Rasulullah SAW, Sayyidah Khadijah binti Khuwaylid, beristirahat dengan tenang. Tak hanya beliau, beberapa anggota keluarga inti Nabi juga dimakamkan di sini, di antaranya:
Abdul Muthalib: Kakek Nabi Muhammad SAW yang mengasuh beliau di masa kecil.
Abu Thalib: Paman Nabi yang menjadi pelindung setia dakwah di Makkah.
Aminah binti Wahb: Ibunda Nabi Muhammad SAW (meski beberapa literatur mencatat di Abwa, tradisi lokal banyak yang menziarahinya di area ini).
Putra-putra Nabi: Qasim dan Abdullah yang wafat saat masih kecil.
Transformasi Sejarah: Dari Kubah Megah ke Kesahajaan
Hingga awal abad ke-20, Jannat al-Mu'alla dihiasi dengan berbagai kubah artistik dan nisan-nisan megah yang menandai makam tokoh-tokoh besar. Namun, pada tahun 1925, seiring dengan perubahan pemerintahan di Arab Saudi, bangunan-bangunan di atas makam tersebut diratakan.
Kini, wajah Al-Ma’la tampil dalam kesahajaan yang mendalam. Tidak ada lagi menara atau kubah; yang tersisa hanyalah hamparan tanah datar dengan batu-batu kecil sebagai penanda. Transformasi ini mencerminkan prinsip kesederhanaan dalam tradisi pemakaman yang dipegang teguh oleh pemerintah setempat, tanpa mengurangi sedikit pun nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.
Simpul Spiritual bagi Ulama Nusantara
Bagi masyarakat Indonesia, Jannat al-Mu'alla memiliki kedekatan emosional yang spesial. Banyak ulama besar asal Indonesia yang wafat di Tanah Suci memilih atau mendapatkan kehormatan untuk dimakamkan di sini.
Salah satu yang paling fenomenal adalah KH Maimoen Zubair (Mbah Moen), tokoh kharismatik Indonesia yang wafat saat menunaikan ibadah haji pada tahun 2019. Selain beliau, terdapat nama-nama besar seperti Syekh Nawawi al-Bantani dan Syekh Yasin Al-Fadani, yang menunjukkan betapa eratnya hubungan intelektual dan spiritual antara ulama Nusantara dengan tanah Makkah.
Ziarah yang Menggetarkan Hati
Setiap musim haji dan umrah, Al-Ma’la menjadi destinasi yang tak pernah sepi dari doa. Mengunjungi tempat ini bukan sekadar melakukan ritual ziarah kubur, melainkan sebuah perjalanan refleksi tentang kefanaan dunia dan keteguhan iman para pendahulu.
Bagi Anda yang sedang berada di Makkah pada tahun 2026 ini, mengunjungi Jannat al-Mu'alla dapat dilakukan dengan berjalan kaki singkat dari area Masjidil Haram melalui jalan Al-Hajun. Meskipun pengunjung biasanya hanya diperbolehkan melihat dari balik pagar, suasana khidmat dan hembusan angin di kaki gunung Hajun tetap mampu menghadirkan kedamaian bagi setiap peziarah yang datang dengan penuh takzim.