JABAL RAHMAH: KETIKA VANDALISME MENEROBOS SAKRALITAS ZIARAH
Di tengah hamparan padang Arafah yang tenang, berdiri Jabal Rahmah, sebuah bukit batu yang memegang relung penting dalam ingatan kolektif umat Islam. Di puncaknya, sebuah tugu putih menandai tempat yang dalam tradisi diyakini sebagai titik perjumpaan kembali Nabi Adam dan Siti Hawa. Namun, tempat yang seharusnya memancarkan kesahajaan spiritual tersebut kini kerap menghadap pada realitas yang ironis: aksi vandalisme yang merusak keindahan dan nilai sejarahnya.
Menelusuri Fenomena Coretan di Atas Batu
Batu-batu hitam dan dinding tugu yang kokoh di puncak bukit kerap tertutupi oleh deretan tulisan. Nama-nama pribadi, deretan doa yang ditorehkan dengan spidol permanen, hingga lembaran foto keluarga yang diselipkan di celah-celah bebatuan kerap ditemukan di area ziarah ini. Fenomena tersebut bermula dari kekeliruan pemahaman sebagian peziarah. Adanya mitos lokal bahwa meninggalkan nama atau jejak fisik di Jabal Rahmah dapat mempermudah jodoh atau memanggil sanak saudara ke Tanah Suci mendorong aksi-aksi jahil tersebut. Padahal, dari sudut pandang syariat maupun adab beribadah, perbuatan mengotori situs bersejarah sama sekali tidak memiliki dasar dalil.
Langkah Penataan dan Pembinaan
Pemerintah Kerajaan Arab Saudi bersama otoritas terkait terus mengupayakan pemeliharaan area Jabal Rahmah. Dinding tugu yang kotor kerap dicat ulang, serta papan imbauan multilingual telah dipasang untuk mengedukasi peziarah agar tidak mengkhususkan ritual yang melanggar aturan. Selain itu, Kementerian Agama RI dan para pembimbing ibadah haji/umrah secara berkala mengingatkan jemaah untuk bersikap bijak. Edukasi mengenai adab al-ziyarah terus digalakkan agar kesakralan Tanah Suci tetap terjaga dari perilaku yang merusak lingkungan dan nilai spiritualitas. Menjaga Jabal Rahmah agar tetap murni dari guratan vandalisme bukan sekadar tugas pengelola kawasan Suci, melainkan tanggung jawab moral setiap peziarah yang datang mengetuk pintu kerinduan di Tanah Haram.