Berita / PASAR KAKIYAH: MENYESAP DENYUT TRADISI DI "TANAH ABANG" MAKKAH
22 Apr 2026

PASAR KAKIYAH: MENYESAP DENYUT TRADISI DI "TANAH ABANG" MAKKAH

Image PASAR KAKIYAH: MENYESAP DENYUT TRADISI DI "TANAH ABANG" MAKKAH News
 Di balik kemegahan menara zam-zam yang menjulang tinggi dan syahdunya lantunan doa di pelataran Masjidil Haram, tersimpan sebuah kepingan kehidupan yang riuh namun hangat. Sekitar delapan kilometer menyusuri Jalan Ibrahim Al-Khalil ke arah selatan, berdirilah Syuk Al Kakia—sebuah oasis bagi para pencari buah tangan yang oleh jemaah Nusantara karib disapa sebagai "Tanah Abangnya Makkah."
Memasuki gerbang Pasar Kakiyah adalah memasuki simfoni perniagaan yang telah melegenda. Wangi semerbak gaharu dan parfum oud segera menyambut indra penciuman, berpadu dengan aroma kacang-kacangan sangrai yang menguar dari sudut-sudut kios. Di sini, transaksi bukan sekadar pertukaran mata uang, melainkan sebuah seni diplomasi budaya.
 
Elegansi dalam Lipatan Kain
Pasar berlantai tiga ini merupakan rumah bagi ratusan kios yang memajang kekayaan tekstil Timur Tengah. Di sepanjang lorongnya, hamparan sajadah dengan motif Raudah yang lembut seakan memanggil untuk disentuh. Tak jauh dari sana, deretan Abaya hitam pekat dengan bordir benang emas berkilau di bawah lampu pendar, menawarkan keanggunan khas perempuan jazirah yang bersahaja namun tetap berkelas.
Bagi jemaah Indonesia, Kakiyah adalah rumah kedua. "Berapa, Ammi?" tanya seorang jemaah, yang dibalas dengan senyum lebar dan bahasa Indonesia yang fasih oleh sang pedagang, "Murah, Kawan. Grosir saja!" Percakapan hangat ini menjadi bumbu yang membuat Kakiyah tak pernah kehilangan magnetnya.
 
Labirin Rasa dan Aroma
Lantai dasar pasar ini adalah surga bagi para pencinta kuliner. Gunung-gunung kecil kurma Ajwa yang legam dan berkilau bersanding dengan kurma Sukari yang lumer di mulut. Di sudut lain, tumpukan kacang Arab dan cokelat aneka rupa—termasuk varian cokelat Dubai yang tengah naik daun—menjadi pemandangan yang menggoda selera.
Bagi mereka yang jeli, Kakiyah menawarkan lebih dari sekadar barang belanjaan. Ia adalah tempat di mana kita bisa melihat bagaimana tradisi dagang kuno beradaptasi dengan zaman. Di sini, kartu debit internasional bersanding manis dengan timbangan manual tua, menciptakan harmoni antara modernitas dan nostalgia.
 
Panduan Menuju Jantung Perniagaan
Menuju Kakiyah adalah sebuah perjalanan singkat yang berkesan. Jemaah bisa menggunakan bus umum Makkah yang efisien atau taksi yang dengan senang hati membelah kemacetan kota suci. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi hari setelah fajar menyingsing atau malam hari saat udara Gurun Arab mulai mendingin, menghindari jeda waktu salat di mana seluruh aktivitas sejenak bersimpuh dalam sujud.
Meninggalkan Kakiyah bukan sekadar membawa tas-tas besar berisi oleh-oleh. Ada sepotong kenangan tentang keramahan Makkah, tentang tawar-menawar yang berakhir dengan jabat tangan erat, dan tentang sebuah pasar yang tetap berdiri kokoh sebagai saksi bisu kerinduan jutaan manusia akan Tanah Suci.
Whatsapp Chat Admin