Berita / OASE ILMU DI BAITULLAH KEDUA: MENYELAMI KHAZANAH PERPUSTAKAAN MASJID NABAWI
21 Jan 2026

OASE ILMU DI BAITULLAH KEDUA: MENYELAMI KHAZANAH PERPUSTAKAAN MASJID NABAWI

Image OASE ILMU DI BAITULLAH KEDUA: MENYELAMI KHAZANAH PERPUSTAKAAN MASJID NABAWI News

Di tengah hiruk-pikuk jamaah yang mengalir tak henti di pelataran Masjid Nabawi, ada sebuah ruang yang sunyi namun sarat makna. Di sanalah, lautan ilmu mengalir tenang, menawarkan keteduhan bagi pikiran. Perpustakaan Masjid Nabawi, yang telah berdiri lebih dari satu abad, bukan sekadar rak buku. Ia adalah benteng peradaban yang menjaga napas intelektual Islam, sekaligus mercusuar yang menerangi pencari ilmu dari seluruh penjuru dunia.

Dari Koleksi Langka hingga Digitalisasi Canggih

Berdiri sejak 1352 Hijriah, perpustakaan ini telah berevolusi menjadi institusi modern tanpa kehilangan jati dirinya sebagai penjaga warisan. Lebih dari 180.000 buku fisik, terklasifikasi dalam 71 bidang ilmu—dari tafsir, hadis, sejarah, hingga sains kontemporer—menghuni rak-rak kayunya yang megah. Namun, harta karun sejati terletak pada koleksi manuskrip dan mushaf langka: 4.052 manuskrip asli, 4.600 mushaf bergambar, serta 250 mushaf Al-Qur’an kuno yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Islam.

Di era modern, khazanah ini tak lagi terkunci. Melalui transformasi digital, perpustakaan menawarkan lebih dari seperempat juta judul digital dan 260.000 mushaf terdigitalisasi. Sistem katalog elektronik canggih memudahkan peneliti mengakses koleksi, sementara departemen teknis dengan peralatan mutakhir bekerja keras melakukan restorasi dan sterilisasi untuk memastikan naskah-naskah berharga terjaga untuk generasi mendatang.

Layanan Inklusif dan Multibahasa

Keanggunan Perpustakaan Masjid Nabawi terletak pada komitmennya untuk melayani setiap individu. Ruang baca yang representatif dipisahkan secara khusus untuk pria, wanita, dan anak-anak, menciptakan atmosfer nyaman bagi seluruh kalangan. Posisinya di lantai dua, di depan Pintu 10 sisi barat masjid, mudah diakses melalui eskalator, mengundang setiap jamaah untuk singgah sejenak dari ibadah dan memasuki lautan ilmu.

Yang menakjubkan, pelayanan ini mengglobal. Perpustakaan menyediakan ruang khusus untuk buku asing dalam lebih dari 21 bahasa, termasuk Indonesia. Di rak-rak internasional itu, karya ulama dunia berdampingan dengan buku berbahasa Indonesia seperti Riyadhus Shalihin hingga Halal dan Haram dalam Islam, menunjukkan bahwa pesan Islam bersifat universal dan dapat diakses oleh semua bangsa.

Jantung Literasi di Kota Nabi

Perpustakaan ini berfungsi lebih dari sekadar penyimpan buku. Departemen Perpustakaan Audio dengan setia melestarikan rekaman khutbah, pelajaran, dan doa dari Masjid Nabawi, menjadi arsip hidup tradisi lisan Islam. Sementara itu, sistem administrasi digital pintar yang dioperasikan memungkinkan pengelolaan koleksi secara efisien dan akses yang lebih luas.

Operasionalnya yang buka setiap hari dari pukul 08.00 hingga 22.00 waktu setempat mencerminkan semangat untuk terus melayani. Setiap tahun, puluhan ribu peneliti, pelajar, dan jamaah biasa memanfaatkan fasilitas ini, menjadikannya salah satu pusat kajian Islam paling hidup di dunia.

Penutup

Perpustakaan Masjid Nabawi adalah mahakarya yang menyempurnakan kekuatan spiritual kota Madinah. Ia adalah bukti nyata bahwa Islam tidak hanya memuliakan ibadah ritual, tetapi juga menempatkan pencarian ilmu sebagai bagian tak terpisahkan dari keberimanan. Di antara tiang-tiang masjid yang penuh berkah, di ruang yang tenang ini, warisan intelektual Islam terus bernafas, didigitalkan, dan diwariskan—menjadi oase ilmu yang abadi di tengah gurun zaman. Ia bukan hanya tentang masa lalu yang terpelihara, melainkan juga tentang masa depan yang terus ditulis.

 

Whatsapp Chat Admin